Selasa, 14 Agustus 2012

CIRC


MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING             AND COMPOTITON (CIRC)
A.      Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compotition ( CIRC )
CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.
Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting.
Jadi CIRC merupakan program yang komprehensif untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar.
B.     Komponen-Komponen dalam  Model Pembelajaran CIRC
Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:
1)   Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.
2)   Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3)    Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
4)    Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.
5)   Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
6)   Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
7)   Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
8)   Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
C.  Kegiatan Pokok Model Pembelajaran CIRC
Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu:
a)    Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.
b)    Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah.
c)    Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.
d)   Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan
e)     Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4)
Model pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981), dengan langkah-langkah:
1.      Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen.
2.      Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.
3.      Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana dan ditulis pada lembar kertas.
4.      Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5.      Guru memberikan penguatan
6.      Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan
7.      Penutup.
Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:
1.      Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
2.       Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
3.      Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.
Cara untuk menentukan anggota kelompoknya adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan peringkat siswa
Dengan cara mencari informasi tentang skor rata-rata nilai siswa pada tes sebelumnya atau nilai raport. Kemudian diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai terendah.
2.       Menentukan jumlah kelompok
Jumlah kelompok ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut.
3.       Penyusunan anggota kelompok
Pengelompokkan ditentukan atas dasar susunan peringkat siswa yang telah dibuat. Setiap kelompok diusahakan beranggotakan siswa-siswa yang mempunyai kemampuan beragam, sehingga mempunyai kemampuan rata-rata yang seimbang.
Roger dan David Johnson dalam Anita Lie (2008 :31) menyatakan
bahwa tidak semua kerja kelompok dianggap cooperative learning. Untuk
mencapai hasil yang maksimal, lima model pembelajaran gotong royong harus ditetapkan. Kelima model tersebut yaitu:
1.      Saling ketergantungan positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu
menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus
menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan
mereka. Dengan cara ini, mau tidak mau setiap anggota merasa
bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa
berhasil.
2.      Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari yang pertama.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur Model
Pembelajaran kooperatif setiap siswa akan merasa bertanggung jawab
untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan model pembelajaran
kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.
3.      Tatap muka
Setiap kelompok harus diberiakan kesempatan untuk bertemu
muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para
pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua
anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil
pemikiran dari satu kepala saja. Inti dari sinergi ini adalah menghargai
perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masingmasing.
Jadi, para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk
saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka
dan interaksi pribadi.
4.       Komunikasi antar anggota
Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga
merupakan proses panjang. Pembelajaran tidak bisa diharapkan langsung
menjadi komunikator yang andal dalam waktu sekejap. Proses ini sangat
bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar
dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5.      Evaluasi proses kelompok
Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak
perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang
beberapa kali siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif
D.      Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC
Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:
a)      CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.
b)      Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.
c)       Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok.
d)     Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya.
e)       Membantu siswa yang lemah.
Kekurangan model CIRC adalah:
a)      Pada saat persentasi hanya siswa yang aktif tampil.
b)      Tidak semua siswa bisa mengerjakan soal dengan teliti.
E.     Penerapan Model Pembelajaran CIRC
Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:
1.      Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.
2.      Guru memberikan latihan soal.
3.       Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.
4.       Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen.
5.       Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok.
6.       Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik.
7.      Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok.
8.       Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.
9.       Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan.
10.  Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya.
11.   Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator.
12.   Guru memberikan tugas/PR secara individual.
13.   Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya.
14.   Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah.
15.   Guru memberikan kuis.

DAFTAR PUSTAKA

Suriansyah, A. Dkk. 2009. Bahan Ajar Cetak Strategi Pembelajaran. Banjarmasin

Suyitno, Amin. 2005. Mengadopsi Pembelajaran CIRC dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar Nasional F.MIPA UNNES.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar